Ita Purnamasari: Terpaksa Naik Ojeg
Bukan lantaran sudah bosan hidup atau mau cari perhatian orang, seorang pria pengendara motor mencoba bergerak lincah menerobos ribuan pengunjung yang memadati kawasan Pantai Bende, Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), menjelang detik-detik penggantian tahun 2001 ke 2002. Berkali-kali klaksonnya dibunyikan. Sementara, dua penumpangnya memegang erat sang pengemudi, seraya terus berujar, “Permisi…permisi…permisi numpang lewat sebentar…,” pintanya.
Awalnya memang ditanggapi dingin. Namun, karena si empunya suara adalah salah satu perempuan yang mukanya sudah sering dilihat di layar kaca, perlahan kumpulan orang itu pun memberinya jalan untuk melaju. “Permisi…permisi…makasih yah, makasih, permisi…”
Sementara bunyi klakson pun masih terus dibunyikan si pengemudi tanpa henti. Terus bersahutan. menciptakan kebisingan tersendiri.
Motor pun akhirnya sampai juga di pintu gerbang samping panggung pertunjukan. Dengan lantang wanita yang duduk di bangku paling bontot pun berteriak kencang dan tergesa-gesa. “Pak cepat buka pintunya, ini Mbak Ita Purnamasari,” teriaknya pada dua orang aparat yang tengah berjaga, seraya mengangkat tangannya dan menunjukkan pada wanita yang duduk di depannya.
“Aduh acak-acakan lagi deh dandanan saya,” keluh Ita Purnamasari, yang malam itu menjadi salah satu bintang tamu dalam acara memeriahkan penggantian tahun baru di Pantai Bende, TIJA bersama suami, Dwiki Darmawan serta penyanyi lainnya, Rossa dan Nadilla.
Kata ibu Muhammad Fernanda (4), sedianya ia akan hadir di lokasi pertunjukan lebih awal, sebelum masyarakat menyerbu lokasi tersebut. Tapi lantaran dandanan belum juga kelar, akhirnya terpaksa beberapa saat sebelum gilirannya tampil. “Aku deg-degan banget. Sampai-sampai sesak napas. Untunglah selamat,” katanya kepada KCM seraya menuju ke arena pertunjukan. (eh)
Pergelaran `Irama Indonesia` Pukau Ratusan Penonton China
Beijing (ANTARA News) - Pertunjukan musik Irama Indonesia (The Rhythms of Indonesia) berhasil memukau ratusan penonton yang hadir di Gedung Konser Beijing, Rabu malam.
Komposer sekaligus musisi Dwiki Dharmawan berhasil memadukan alat musik tradisional Indonesia dan China, serta alat musik modern dalam menyajikan sejumlah lagu dan gerak tari yang diperagakan oleh Didik Nini Thowok.
Kelompok musik yang ikut meramaikan kegiatan seni dan budaya itu adalah Krakatau (Indonesia), Orkestra Harmoni Asia (China), serta “World Music Ensamble of Central Conservatory of Music” (China), penyanyi Ita Purnamasari, serta pesinden Peni Candra Rini.
Sejumlah alat musik tradisional Indonesia, seperti angklung, rebab, serta gendang juga turut menyemarakkan pertunjukan pentas seni dan budaya yang menyajikan lagu-lagu ‘Janger’, ‘Bengawan Solo’, ‘Genjring Party’, ‘Ilir-Ilir’, ‘Impen-Impenan’, serta ‘Yamko Rambe Yamko’.
Para penonton yang terdiri atas masyarakat Indonesia, duta besar, diplomat asing, serta warga Beijing tampak begitu antusias menyaksikan pertunjukan seni dan budaya khas Indonesia tersebut dan beberapa kali memberikan sambutan tepuk tangan.
Turut hadir menyaksikan pertunjukan antara lain Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, Duta Besar RI untuk China, Sudrajat, serta Wakil Kepala Perwakilan RI untuk Beijing Mohamad Oemar.
Pertunjukan diawali dengan menyanyikan lagu ‘Janger’ yang diiringi oleh musik tradisional Indonesia dan China, alat musik modern, sementara Dwiki mengiringi dengan piano.
Pada akhir pertunjukan dilantunkan lagu ‘Yamko Rambe Yamko’ yang dinyanyikan secara urut-urutan (medley).
Dubes Sudrajat mengatakan tujuan dari pertunjukan itu adalah untuk lebih memperkenalkan jenis seni dan budaya Indonesia, khususnya untuk menampilkan berbagai alat musik tradisional yang kian lama kian dikenal di China.
Ia mengatakan dengan adanya penampilan pentas seni dan budaya ini diharapkan warga China dan asing yang ada di Beijing bisa lebih mengenal budaya Indonesia yang pada akhirnya bisa lebih mengangkat nama Indonesia di mata internasional.
“Kita akan lebih aktif mempromosikan potensi budaya Indonesia di mata internasional, antara lain melalui pertunjukan seperti ini,” katanya.
Kegiatan ini, kata Dubes, juga merupakan salah satu realisasi dari Kerjasama Strategis yang telah ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Hu Jintao pada April 2005, yang intinya meningkatkan kerjasama berbagai bidang, seperti politik, ekonomi, serta sosial dan budaya.
Pentas seni dan budaya itu, katanya, terselenggara atas kerjasama KBRI Beijing, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, serta Garuda Indonesia. (*)
KBRI Beijing Akan Gelar “Irama Indonesia”
Beijing (ANTARA News) - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beijing, China, akan menggelar pertunjukan Irama Indonesia (The Rhythms of Indonesia) di Gedung Konser Beijing pada 7 November 2007.
“Tujuan pertunjukan ini untuk lebih memperkenalkan jenis seni dan budaya Indonesia khususnya menampilkan berbagai alat musik tradisional,” kata Sekretaris III Bidang Sosial dan Budaya KBRI Beijing, Arianto Surojo, di Beijing, Senin.
Sejumlah musisi dan kelompok musik akan unjuk kebolehan, seperti Dwiki Dharmawan dengan Krakatau Band, Ita Purnamasari, Orkestra Simphoni Nasional, Pusat Konservatori Musik.
Penari asal Yogyakarta, Didik Nini Thowok, juga akan tampil, selain pertunjukan musik tradisional angklung.
Beberapa lagu yang akan ditampilkan antara lain “Bengawan Solo”, “Kutemukan”, “Impen Impenan”, “Yamko Rambe Yamko”, “Rasa Sayange”, dan sejumlah lagu lain hasil perpaduan dengan alat musik tradisional Indonesia.
“Dalam pertunjukan nanti juga akan menampilkan beberapa musisi lokal untuk berkolaborasi dengan musisi Indonesia,” kata Arianto.
Ia mengatakan dengan adanya penampilan pentas seni dan budaya ini diharapkan warga China dan asing yang ada di Beijing bisa lebih mengenal budaya Indonesia yang pada akhirnya bisa lebih mengangkat nama Indonesia di mata internasional.
Pertunjukan itu, katanya, akan dihadiri sejumlah duta besar dan diplomat yang ada di Beijing, serta sejumlah pejabat tinggi negeri Tirai Bambu itu.
“Kita akan lebih aktif mengenalkan potensi budaya Indonesia di mata internasional, antara lain melalui pertunjukan seperti ini,” katanya.
Kegiatan seni dan budaya ini, kata Arianto, merupakan salah satu realisasi dari kesepakatan kerja sama strategis yang telah ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden China Hu Jintao April 2005, yang intinya meningkatkan kerjasama berbagai bidang seperti politik, ekonomi, serta sosial dan budaya. (*)

